Manajemen Waktu ala Rasulullah

 

Sikap disiplin memang sangat bagus dijalankan untuk menjaga keteraturan hidup. Yuk simak manajemen waktu ala Rasulullah berikut ini.

1. Jadikan Shalat Fardu sebagai pola disiplin

Rasulullah SAW menjadikan shalat fardu sebagai cara membentuk pola kedisiplinan dan membentuk watak dan ritme hidup. Pemilahan waktu dalam sehari bagi umat Islam sangatlah jelas, dan melalui manajemen waktu shalat fardu ini dapat menjadikan kita disiplin dan tepat waktu sehingga segala aktivitas kita terprogram dengan baik. Aqiqah Karawang

 

2. Terapkan pola berpikir investasi

Pola berpikir investasi bukanlah manajemen waktu yang instan, artinya jangan mengelola waktu dengan instan atau hanya berpikir jangka pendek, namun coba membuat daftar kegiatan untuk jangka Panjang, karena jika mengelola waktu dengan instan karena akan membuat kita malas dalam berproses. Persiapkan segala hal untuk masa depan kita sehingga natinya kita dapat memetik hasil terbaik dikemudian hari.

Didalam ajaran Islam memang selalu diajarkan menabur benik kebaikan, seperti yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Tetapi bukan artiny akita bisa langsung memanen kebaikan tersebut dikeesokan harinya, tapi kita harus yakin bahwa Allah maha adil setiap kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan. Pola berpikir investasi yang diajarkan Rasulullah SAW sangat perlu diterapkan agar menjadikan akhlak pribadi kita menjadi baik.

 

3. Terus produktif, jangan biarkan waktu terbuang percuma

Islam sangat menjunjung tinggi waktu dan sangat mengutamakan nilai-nilai produktifitas secara semputna, baik produktifitas terhadap melakukan ibadah atau pengintkatan serta perbaikan diri maupun produktifitas yang dapat menghasilkan suatu karya dan sesuatu yang bermanfaat.

Allah pernah berfirman didalam Al-Quran:

Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh sungguh urusan yang lain”
(QS. Al-Insyirah : 7)

Tampak sederhana, tapi jika direnungkan ayat tersebut terlihat jelas menjelaskan bahwa Allah tidak menginginkan umat-Nya menjalani waktu tanpa produktivitas. Karena hakikatnyna waktu bagi seorang muslim adalah sebuah ritme perputaran waktu yang tidak akan pernah putus. Untuk itu, selalu lakukan aktivitas yang sekiranya membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, dan jangan lupa usahakan pergunakan waktu sebaik mungkin.  Aqiqah Karawang

 

4. Gunakan aji mumpung

Yang dimaksud dengan aji mumpung disini adalah yang berarti bagaimana kita memanfaatkan waktu peluang yang ada untuk mengambil kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik mungkin. Seperti halnya selagi masih muda gunakan waktu untuk belajar dan beribadah, menghafal Al-Quran atau hal-hal kegiatan yang menjadi peluang pahalanya banyak. Seperti halnya hadits dibawah ini :

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW, pernah menasehati seseorang,

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara
(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”

 

5. Jauhi sikap menunda-nunda

Jangan suka menunda-nunda sesuatu kebaikan, niat baik atau pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan manfaat apalagi sampai menuda-nunda ibadah, karena yang pertama Allah dan Rasul sangat benci kelakuan kebiasaan menunda-nunda dan menjadikan kebiasan buruk bagi diri kita.  Aqiqah Karawang

 

6. Cepat, tapi bukan tergesa-gesa

Ketahuilah bahwa cepat itu bukan berarti terburu-buru atau tergesa-gesa. Namun tetap teliti dan melakukan dengan segera bukan berarti lambat. Kira-kira itulah yang diajarkan dalam hadist tersebut. Kegesitan Rasulullah SAW, bukan artinya kita juga harus melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa, sebab ketergesaan biasanya tak lepas dari kecerobohan.

“Karena sifat tergesa-gesa itu halnya berasal dari setan.”( HR Anas bin Malik).

Sala satu contohnya adalah ketika mendengar suara adzan seharusnyna 5 menit sebelum adzan memanggil, kita sudah siap untuk mengambil wudhu dan bersiap-siap shalat ke masjid/mushola. Jangan sampai waktu shalat sudah mau habis kita terburu-buru atau tergesa-gesa untuk melaksanakan shalat, itulah yang seharusnya seorang muslim yang beriman tidak lakukan hal yang tergesa-gesa. Sementara Allah dan Rasulullah berkali kali memperingatkan kita agar kita bersegera,dan menjauhi sikap menunda.

“Menunda-nunda melaksanakan kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezaliman”(HR. Bukhari).

Untuk itu mulai saat ini coba untuk jauhi sikap menunda-nunda, terlebih dalam hal menjalankan kewajiban beribadah. Karena dalam Alquran juga disebutkan

“Bersegeralah kalian kepada ampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”(Ali Imran : 133).


7. Rutin melakukan evaluasi

“Orang yang berakal dan dapat mengendalikannya, seharusnya memiliki empat waktu: pertama, waktu untuk bermunajat kepada Allah; Waktu untuk mengintrospeksi diri; ketiga waktu untuk memikirkan ciptaan Allah; keempat waktu untuk memenuhi kebutuhan jasmani dari minuman dan makanan.”(HR. Ibnu Hibban).

 

Evaluasi disini artinya meneliti dan melihat kembali apa yang telah sudah kita lakukan sebelumnya, serta mencermat segala kekurangan dan kelemahan yang ada ddalam diri kita sendiri. Tanpa melakukan evaluasi, kita tidak akan pernah menyadari kelemahan dan kekurangan pada diri kita, dan akibatnya kita akan terus melangkah dengan kesalahan yang sama.


Untuk itu, Rasulullah SAW, selalu menerapkan evaluasi dalam manajemen waktunya, karena secepat apa pun kita, sebenci apa pun kita pada sikap menunda, sampai seproduktif apa pun kita terhadap melakukan sesuatu, tetap saja kita wajib mengevaluasi diri kita dan segala hal yang pernah kita lakukan sebelumnya.  Aqiqah Karawang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aqiqah Sukorejo Kendal

Aqiqah semarang siap saji termurah

Apa Saja Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak?